Saturday, 8 October 2016

Memorabilia dari Eloknya Jawa Tengah


Tak pernah menduga sebelumnya, merantau akan menjadi sebuah bagian dari hidup saya. Sebuah kehidupan yang tak lagi sama dengan sebelumnya, ketika keluarga berada di sekitar kita, dan lingkungan yang tak asing karena kita jumpai sehari-harinya. Selepas dinyatakan lulus dari Diploma 3 IPB, sebenarnya ada niat untuk segera mencari pekerjaan. Namun, desakan keluarga untuk mengejar jenjang pendidikan yang lebih tinggi pada akhirnya meluluhkan hati saya. Universitas Sebelas Maret (biasa disebut UNS) menjadi pilihan dan saya resmi merantau ke kota Solo untuk dua tahun lamanya, mulai dari tahun 2014.

Jawa Tengah merupakan wilayah yang sangat kental dengan budaya, terutama kota Surakarta alias Solo. Setiap bulan selalu ada acara kebudayaan dan kesenian yang digelar di kota ini, membuat Solo tidak menjadi kota yang membosankan. Meski terkendala perbedaan bahasa di awal, tapi saya perlahan mulai beradaptasi dan mulai terbiasa dengan kehidupan kota Solo.

Saya tak sendiri dalam perantauan ini, beberapa teman yang juga berasal dari Bogor turut melanjutkan studi di UNS bersama saya. Oleh karena itu, banyak hal yang akan saya ceritakan selanjutnya bersama teman-teman saya ini, bagaimana kami mengeksplorasi beberapa lokasi yang menjadi pesona keindahan kota Solo dan sekitarnya, yang merupakan kebanggaan dari provinsi Jawa Tengah. Perantauan ini menjadi sebuah pengalaman baru bagi saya, yang sebelumnya sangat jarang melakukan traveling. Bersama teman-teman, banyak waktu luang yang saya manfaatkan untuk jalan-jalan dan mencicipi kuliner kota Solo.

Tahun pertama sebagai wong Solo, saya masih cukup jarang melakukan perjalanan jauh karena kesibukan di kampus. Wisata kuliner menjadi pilihan pada tahun pertama ini, beberapa tempat yang menjadi daya tarik kuliner di kota Solo berhasil saya kunjungi. Sate Kambing Mbok Galak adalah tempat makan yang paling awal saya kunjungi. Tempat ini menawarkan sate buntel, karena baru pertama kali memakan sate buntel, saya terkejut ternyata ada sate sebesar itu. Dan rasanya yang nikmat membuat saya tak bisa menolak jika kembali diajak ke sini selanjutnya. Dengan harga sekitar Rp 40 ribu satu porsi dan juga es teh manis, perut dan lidah saya berhasil dimanjakan.

Sate Kambing Mbok Galak
Lalu, saya juga mengunjungi Martabak Kota Barat (Markobar), yang populer di Solo dan juga ciri khasnya yang menyajikan martabak dengan berbagai pilihan topping. Disarankan tidak memakan martabak ini sendirian, kemungkinan kalian bakal merasa kekenyangan sebelum mampu menghabiskannya. Terdapat dua lokasi dari Markobar, yang satu dijual dalam bentuk restoran, yang biasanya akan dipadati pengunjung di akhir pekan, restoran ini terletak di samping Solo Grand Mall. Sementara satu lagi dijual dalam bentuk warung tenda pinggir jalan, yang terletak di samping Lapangan Kota Barat.

Selain itu saya juga sempat mengunjungi Cafe Tiga Tjeret, yang merupakan salah satu cafe wedangan hits di Solo. Tempatnya yang artistik dan dihiasi payung-payung melayang di atasnya menjadi daya tarik sendiri untuk para pengunjung. Beberapa makanan khas seperti Selat Solo juga sudah saya cicipi, namun sayang saya bukan tipe penikmat makanan pedas, sehngga saya tidak pernah berani mencoba makan tengkleng, yang katanya khas juga di sini.

Cafe Tiga Tjeret
Ada kuliner unik lainnya, bukan unik dari makanannya, melainkan dari jam bukanya, yaitu Gudeg Cakar Bu Kasno yang berada di sekitar Jalan Monginsidi. Gudeg ini baru buka jam dua malam, sehingga saya dan teman-teman sering menyebutnya Gudeg 'Nocturnal'. Ada beberapa pilihan lauk untuk mendampingi lezatnya gudeg di sini, yaitu cakar, daging ayam, tahu, telur puyuh, dan sebagainya. Waktu Anda tidak akan terbuang percuma setelah menahan kantuk untuk mencicipi makanan ini, percayalah.

Gudeg Cakar Bu Kasno
Beberapa tempat lainnya yang memorable di Solo adalah Ngopi Serius, sebuah kedai kopi di dekat Stasiun Purwosari, Lalu, warung tenda Susu Segar Shi-Jack, yang juga katanya menjadi ikon kota Solo. Susu Segar Shi-Jack dapat dijumpai di beberapa tempat di Solo, Anda dapat menikmati gurihnya susu segar sembari melahap cemilan seperti roti bakar atau gorengan.

Ngopi Serius
Selesai mengenal kuliner-kuliner yang berada di Solo, saatnya menjelajahi lokasi wisata yang tidak boleh dilewatkan. Di dalam kota banyak tempat-tempat yang menampilkan heritage dari kota ini, yaitu Keraton Surakarta Hadiningrat, Benteng Vastenburg, Taman Sriwedari, Kampung Batik Laweyan, Istana Mangkunegaran, Studio Lokananta, dan Galabo (Gladak Langen Bogan, tempat makan semacam foodcourt di pinggir jalan samping Benteng Vastenburg).

Stasiun Solo Balapan
Studio Lokananta
Jalan Slamet Riyadi, Solo
Tugu Pemandengan 0 Km, Solo
Untuk menikmati wisata alam, daerah Tawangmangu dapat menjadi destinasi tepat, karena lokasinya yang tak jauh dari kota Solo. Tawangmangu ini semacam Puncak di Bogor, namun kondisinya masih lebih alami. Tawangmangu berada di Kabupaten Karanganyar dan memiliki nuansa yang sejuk dan segar. Beberapa kali saya dan teman berkunjung ke Tawangmangu untuk melepas penat selepas kuliah.

Salah satu tempat wisata yang saya kunjungi di Tawangmangu adalah Grojogan Sewu, yang menyajikan air terjun setinggi 81 m. Ketika sampai di pintu masuk Grojogan Sewu, saya masih harus jalan kaki yang cukup melelahkan menuju air terjunnya. Dalam perjalanan, saya menjumpai banyak monyet yang kadang turun menghampiri atau berkerumun di sekitar jalan menuju air terjun. Terdapat sekitar seribu anak tangga di sini, sehingga bagi yang berencana ke sini sebaiknya harus siap fisik dan membawa minuman. Sampai di bawah, rasa lelah itu hilang dan disegarkan oleh pemandangan air terjun Grojogan Sewu. Di sini terdapat fasilitas seperti penginapan dan juga kolam renang.

Grojogan Sewu
Destinasi wisata lainnya yang saya kunjungi di Jawa Tengah adalah Gunung Andong, yang terletak di Magelang. Sebelumnya saya belum pernah mendengar nama gunung ini, namun beberapa teman merekomendasikan sehingga akhirnya saya bersama dua teman saya berangkat ke sana untuk memenuhi rasa penasaran. Gunung Andong merupakan gunung yang 'ramah' bagi pendaki pemula, karena tingginya yang hanya sekitar 1.000 m, membuat tempat ini menjadi favorit anak-anak muda untuk menghabiskan waktu ber-selfie ria. Untung saja waktu itu saya dan teman-teman berangkat di hari kerja, sehingga situasi di puncak masih kondusif untuk mengambil foto secara bebas. Untuk menuju puncak Gunung Andong hanya membutuhkan waktu sekitar 1 jam, saat itu saya berangkat tengah malam dari Solo lalu tiba di puncak jam setengah 4 malam.
Puncak Gunung Andong
Gunung Andong ketika sunrise.
Sampai di puncak, terlihat beberapa tenda di sana, menyelamatkan para pemburu sunrise dari rasa dingin yang menusuk malam itu. Saya sendiri tidak membawa tenda, kami hanya duduk beralaskan koran dan kursi lipat di atas tanah dan kemudian bercengkrama sembari memandangi ribuan bintang di langit. Beruntunglah saya, karena saat itu cuacanya cerah sehingga hamparan bintang tersebut dapat dinikmati sepuasnya. Sebuah malam yang begitu tenang dan terasa spesial.

Ketika matahari mulai mengintip, kami bersiap-siap untuk mengambil posisi terbaik. Rasa dingin yang tadinya menusuk mulai mengendur perlahan. Pemandangan di bawah yang begitu indah kemudian terlihat dengan jelas. Rumah-rumah warga, hutan, dan sawah dapat dilihat dengan jelas dari puncak. Di seberang, terlihat dua gunung yaitu Merbabu dan Merapi yang terasa sangat dekat. Di sudut lainnya, tampak Gunung Slamet, Sindoro, dan Sumbing yang berjajar rapi mengerucut. Pemandangan yang tiada duanya, langit biru dan lautan awan di bawah mulai menyeruak. Sekitar jam 7, kami pun memutuskan untuk turun dan kembali ke Solo.

Gunung Merbabu dan Merapi dari puncak Gunung Andong
Gunung Sindoro dan Sumbing di kejauhan.
 Setelah merasa puas dengan pemandangan dari puncak Gunung Andong, saya memutuskan untuk melakukan pendakian yang 'sebenarnya'. Kembali memanfaatkan waktu luang ketika weekdays, saya bersama lima teman lainnya memutuskan untuk melakukan pendakian ke Gunung Merbabu, yang memiliki ketinggian 3.142 mdpl. Kami berangkat selepas maghrib dan tiba di basecamp pendakian Gunung Merbabu melalui Selo. Sekitar enam jam lamanya untuk mencapai pos 3 yang menjadi tujuan tempat berkemah kami. Medan menuju pos 3 tidak berat, namun stamina diuji karena jaraknya yang jauh. Tiba di pos 3 kami pun memasang tenda dan istirahat.

Pos 3 Gunung Merbabu
Gunung Merapi dari pos 3 Gunung Merbabu

Pagi hari, kami disapa hamparan rumput hijau yang begitu luas dan langit yang cerah, dari sini tampak Gunung Merapi yang menjulang dan banyak tenda warna-warni di sekitar. Kami sarapan dulu sebelum melanjutkan perjalanan lagi menuju puncak. Kali ini medan yang dilalui untuk sampai ke sabana 1 dan sabana 2 cukup terjal. Beberapa teman tak mampu melanjutkan, hingga akhirnya tinggal saya dan ketiga teman lainnya yang berjuang untuk sampai ke puncak. Ketika perjalanan tiba di sabana 2, awan mendung datang dan semakin pekat, kabut pun mulai menyelimuti perjalanan kami. "Wah, gawat ini kalau hujan," pikir saya. Sepanjang perjalanan, saya terus berdoa agar tidak turun hujan. 

Namun sayang, setibanya di puncak, hanya beberapa detik setelah merasa lega karena sampai di puncak, hujan turun deras sekali dan langsung menghantam tubuh kami yang tanpa persiapan. Alhasil, gagal mengabadikan momen di puncak dengan pemandangan indah di belakangnya. Namun tak apa, tetap menjadi pengalaman perdana mendaki yang menyenangkan. Dan pemandangan indah sepanjang perjalanan sebelum mendung tadi sudah cukup membuat saya merasakan indahnya berada di ketinggian. Masih ada waktu lain untuk menikmati hari cerah di puncak Merbabu.

Bersama kabut di Gunung Merbabu
Kabut dan awan mendung menuju puncak Merbabu.
Lelah dengan perjalanan berat, wisata selanjutnya adalah mengunjungi dua candi ikonik di Jawa Tengah, yaitu Candi Prambanan dan Candi Borobudur. Prambanan yang berada di daerah Klaten dan Yogyakarta, menjadi tujuan awal. Jaraknya yang tak jauh dari Solo membuat perjalanan ini terasa menyenangkan. Peninggalan historis yang indah dan elegan, sebelumnya saya hanya melihat Candi Prambanan dari buku IPS semasa SD dan foto-foto di internet. Selalu jadi kesenangan tersendiri untuk mengunjungi tempat bersejarah. Kekaguman terhadap orang-orang di zaman dahulu yang mampu membuat bangunan seperti ini, menggunakan batu dan menciptakan relief yang tertata rapi.

Peninggalan historis, Candi Prambanan
Sementara itu Candi Borobudur, merupakan destinasi wajib selama di Jawa Tengah. Sebagai salah satu tempat yang pernah menjadi World Seven Wonders (Tujuh Keajaiban Dunia), maka tidak lumrah rasanya berada di Jawa Tengah tapi tidak pernah ke sini. Sebuah candi yang tampak gagah dan megah. Tampak banyak wisatawan asing yang berkunjung ke sini. Saya menelusuri setiap sudut dari Candi Borobudur hingga sampai ke puncak candi. Terdapat banyak stupa dan patung yang menghiasi candi ini.

Candi Borobudur yang megah.
Pemandangan di puncak Candi Borobudur
Selesai menikmati pesona historis, saya mengunjungi Bukit Rhema atau yang dikenal orang banyak sebagai 'Gereja Ayam'. Letaknya tidak jauh dari Borobudur dan jalan masuknya pun tidak terlalu jauh dari jalan besar. Nama 'Gereja Ayam' semakin mencuat semenjak dijadikan 'pelarian' Rangga dan Cinta dalam film Ada Apa Dengan Cinta 2 yang dirilis belum lama ini. Saya sendiri ikut penasaran setelah menonton film itu. Buat yang mengunjungi tempat ini, dapat menelusuri setiap bagian dari gereja tersebut, mulai dari ke bagian kepala dan ke bawah tanah. Terdapat sepenggal sejarah dari pembangunan gereja ini yang ditempel di dinding.

Pemandangan dari kepala 'Gereja Ayam'.
Bukit Rhema atau 'Gereja Ayam', Magelang.
Selain wisata kuliner dan alam, di Jawa Tengah juga saya menikmati bagaimana kuatnya pergerakan musik di kota Solo, yang memiliki berbagai perhelatan musik tahunan, seperti Solo City Jazz, Solo Blues Festival, dan Rock In Solo. Sebagai penggemar musik rock, saya tidak pernah absen untuk datang ke Rock In Solo selama dua tahun tinggal di sana. Banyaknya artis internasional yang mewarnai nama musisi di Rock In Solo menjadikan festival ini dianggap sebagai perhelatan musik terbesar di Jawa Tengah dan berskala nasional.

Rock In Solo 2014
Rock In Solo 2015
Begitulah sepenggal cerita saya selama merantau. Dua tahun yang penuh kenangan dan pengalaman luar biasa. Saya meninggalkan Solo dan Jawa Tengah dengan rasa bangga dan kagum. Berharap ada kesempatan lain untuk berkunjung ke tempat lainnya yang belum saya kunjungi.

Pesonamu akan selalu terkenang
Pesonamu akan selalu dirindukan

Surakarta
Jawa Tengah


*Tulisan ini diikutsertakan dalam lomba Blog Visit Jawa Tengah 2016 yang diselenggarakan oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jawa Tengah @VisitJawaTengah (www.twitter.com/visitjawatengah)



Monday, 25 July 2016

DC Kuasai San Diego Comic-Con 2016

Salah satu acara budaya pop terbesar di Amerika Serikat, San Diego Comic-Con (SDCC) resmi digelar kembali pada 21-24 Juli kemarin. Sudah sepatutnya para penggemar komik dan film di seluruh dunia harap-harap cemas menanti sekiranya kabar menarik apakah yang akan diumumkan dalam acara tersebut. Seperti biasa, dua raksasa komik asal Amerika Serikat, Marvel dan DC menarik perhatian paling besar dengan film-film dan proyek lainnya yang tengah digarap.

Mau tahu ada informasi terbaru apa saja dari SDCC 2016? Berikut ini beberapa informasi penting yang saya rangkum dari pantauan di lini masa (Mungkin suatu saat nanti bisa meliput langsung ke sana, aamiin).


DC baru saja merilis film Batman V Superman: Dawn of Justice pada Maret lalu, yang menuai pro dan kontra mengenai kualitas ceritanya. Menurut saya sendiri filmnya seru, meski tak mampu mengalahkan Captain America: Civil War, tapi masih tetap menarik untuk ditonton berulang-ulang (Total sudah tiga kali saya menonton BVS). Masih ingat dengan pembicaraan antara Bruce Wayne dan Diana Prince di akhir film? Bruce bertekad untuk menemukan daftar metahuman (manusia berkemampuan khusus) yang dimiliki oleh Lex Luthor dan mengumpulkan mereka semua untuk bertarung bersama. Sebuah pernyataan yang pastinya langsung tertuju pada Justice League, kelompok superhero dari DC. Nah pada SDCC kemarin, DC resmi merilis trailer perdana dari film Justice League yang rencananya akan diputar pada November 2017. Dalam trailer itu, tampak Bruce Wayne menjadi inisiator yang mengunjungi Aquaman, The Flash, dan Cyborg untuk mengajak mereka bergabung dalam Justice League. Aquaman tampak sulit diajak, sementara The Flash langsung meng-iya-kan dengan alasan butuh teman. :D Jadi lebih suka kostum The Flash di serial TV atau versi Ezra Miller?

Tidak berhenti di situ, DC juga merilis trailer perdana dari film Wonder Woman yang memanjakan mata. Gal Gadot terlihat sangat pas untuk memerankan sosok Wonder Woman, dari BVS pun udah terlihat. Wonder Woman tampak overpowered dalam trailer itu. Rencananya film ini akan dirilis pada Juni tahun depan. Ah, masih lama!

Malas menunggu lama? Ada satu film dari DC yang akan segera ditayangkan pada Agustus ini berjudul Suicide Squad. Trailer terakhir Suicide Squad yang dirilis pada SDCC menunjukkan lebih banyak karakter Joker yang diperankan Jared Leto. Sepertinya dia bakal kembali berkonfrontasi dengan Sang Ksatria Kegalapan, Batman. Film yang patut ditunggu, karena kita sudah terbiasa dengan kumpulan superhero yang menjadi tokoh utama seperti dalam Avengers, kini berkesempatan melihat bagaimana bila tokoh utama adalah komplotan penjahat (villain).



Selain dari film layar lebar, DC juga memberi kejutan terkait film serial seperti The Flash, Arrow, Supergirl, Legends of Tomorrow, dan Gotham. The Flash season 3 resmi akan bercerita tentang Flashpoint, lalu munculnya speedster lainnya. Untuk villain sendiri belum dikonfirmasi, siapakah yang akan menjadi lawan utama Bary Allen di season 3 setelah sebelumnya Reverse Flash dan Zoom. Arrow juga kembali dengan season 5-nya, Oliver Queen alias Green Arrow akan kembali beraksi untuk melindungi Starling City. Saya masih menunggu kehadiran kembali Deathstroke (yang terakhir kali dikurung di Pulau Lian Yu) atau villain lainnya yang lebih keren dari Damien Darhk. Sementara itu Supergirl resmi bergabung dengan jaringan televisi CW, yang membuat kemungkinan crossover akan menjadi lebih besar dan kehadiran Superman di season 2 nanti diharapkan dapat membuat ceritanya menjadi lebih seru, maklum season 1 agak kurang greget, satu-satunya yang bikin menarik untuk saya karena ada Martian Manhunter. Jim Gordon pun akan kembali dalam Gotham season 3 untuk membereskan penjahat-penjahat yang baru saja kabur dari Indian Hill-nya Professor Hugo Strange. Apakah Bruce Wayne akan semakin dewasa dan semakin dekat untuk menjadi Batman di season 3? Mulai September kalian dapat kembali menikmati serial-serial TV ini.

Beralih ke Marvel, tidak semeriah DC pada pengumumannya kali ini, dimulai dari dirilisnya artwork Spider-Man: Homecoming yang mengonfirmasi jika villain dalam film itu adalah Vulture. Aksi Tom Holland sebagai Spidey bisa ditonton 7 Juli tahun depan. Lalu, dari film yang akan segera dirilis pada November nanti, Doctor Strange! Benedict Cumberbatch bukan lagi seorang detektif, tapi penyihir! Apaan sih…



Lalu salah satu berita terbesar adalah diumumkannya Brie Larson sebagai pemeran Captain Marvel. Setelah banyak opini berkembang, bahkan ada yang bilang Chloe Grace Moretz yang bakal memerankan Captain Marvel, akhirnya resmi juga Brie Larson. Oh iya, untuk yang sudah nonton Captain America: Civil War kemarin pada penasaran kemana perginya Thor dan Hulk? Jawabannya ada di film Thor: Ragnarok yang bakal dirilis pada 3 November 2017. Di sini bakal diceritain apa yang dilakukan Thor dan Hulk saat Civil War terjadi. Di SDCC juga diperlihatkan armor Hulk yang bakal digunakan di film itu nanti, badan hijau dengan armor seperti itu jadi terbayang Ogre di Tekken. World War Hulk! Sementara untuk film Black Panther baru akan dimulai proses shooting pada Januari nanti.

Kabar lainnya adalah bertambahnya cast untuk Guardians of The Galaxy Vol.2, nama besar seperti Sylvester Stallone muncul dalam daftar. Sementara untuk serial TV, Marvel akan merilis beberapa judul terbaru, seperti Defenders, Iron Fist, Luke Cage, dan Legion. Selain itu, Daredevil juga akan kembali untuk season 3 dan Agents of S.H.I.E.L.D yang akan menghadirkan sosok Ghost Rider di season 4. Sayangnya tidak ada Punisher dan lanjutan Jessica Jones (Tapi JJ bakal muncul di Defenders).

Di luar duo Marvel dan DC, Fantastic Beasts and Where To Find Them juga merilis trailer terbarunya. Sang pemenang Oscar, Eddie Redmayne yang berperan sebagai Newt Scamander akan berkelana di dunia sihir dan bertemu hewan-hewan unik dari dunia sihir. Untuk yang merindukan kisah Harry Potter, semoga film ini dapat mengobati kerinduan itu dan membawa kembali fantasi-fantasi lama yang diberikan oleh J.K. Rowling. Film ini bakal diputar pada November mendatang.

Satu informasi terakhir adalah dari serial TV yang membuat kalian berpikir keras ketika menontonnya, Sherlock. Ternyata Benedict Cumberbatch masih menjadi detektif juga di samping menjadi penyihir. Kegilaan dan kejeniusan Sherlock Holmes versi Ben Cumberbatch dapat kembali disaksikan di season 4 yang rencananya akan dirilis pada tahun depan. Ahoooy!

Sekian rangkuman yang saya buat dari gegap gempita SDCC kemarin.
Selamat bersabar menanti film yang ditunggu rilis :)

Buat yang mau nonton trailer-trailer dari SDCC kemarin bisa dicek di bawah ini.


 








Sunday, 24 April 2016

Live Review: Rock In Solo 2015


Rock In Solo 2015 resmi menginjak tahun ke-11, melewati satu dekade pemberontakan dari anak haram kebudayaan yang bergerilya membangun identitas festival ini sebagai festival berskala internasional dan menjadi yang terbesar di Jawa Tengah. Nama-nama artis internasional mewarnai perhelatan Rock In Solo beberapa tahun belakangan, seperti Psycroptic, Dying Fetus, Cannibal Corpse, Behemoth, Hour of Penance, Death Angel, Kataklysm, dan Carcass. Setelah digelar pertama kali pada 2004 silam, Rock In Solo terus membuktikan diri menjadi festival musik keras yang eksis dan tetap menjaga kearifan lokal, baik dalam segi band pengisi maupun tema acara.

Masih diingat pada beberapa edisi sebelumnya Rock In Solo menampilkan parade Marching Band Keraton yang menegaskan wujud kecintaan pihak penyelenggara terhadap kebudayaan Solo dan tentunya menjadi pesan tersendiri bagi para penonton. Lama-kelamaan, selain sebagai tujuan wisata budaya dan kuliner, Solo memiliki wisata alternatif lain, yaitu wisata metal yang dapat dinikmati setiap tahunnya melalui Rock In Solo.

Hal ini terlihat dari kerumunan massa hitam-hitam yang berkerumun di sekitar Lapangan Parkir Stadion Manahan, yang menjadi venue perhelatan akbar Rock In Solo ke-9 pada Minggu (15/11). Banyak sekali penonton yang mengenakan kaos Rock In Solo edisi-edisi sebelumnya, secara tidak langsung menunjukkan jika Rock In Solo telah memiliki penonton setia yang rutin datang setiap tahunnya. Namun, ada rasa miris dalam hati ketika memasuki area venue, dimana banyak dijumpai pedagang kaos-kaos bajakan di luar pintu masuk. Ini sudah seperti agenda tersendiri bagi pedagang kaos bajakan, yang kini banyak dijumpai di berbagai konser besar di Indonesia. Padahal di dalam venue tersedia berbagai macam suvenir metal orisinil yang menarik dari Bowsound, Belukar, Sepsis Records, dan sebagainya.

Tema Metal Against Racism terpampang jelas di atas panggung. Tema ini dipilih oleh pihak penyelenggara untuk memperluas jangkauan dengan target massa yang lebih global. Bentuk kepedulian terhadap isu kesetaraan suku, agama, ras, dan golongan disampaikan melalui tema ini. Apalagi beberapa waktu lalu kancah musik metal Indonesia sempat diguncang oleh isu rasisme dalam suatu konser yang mengatasnamakan metal. Selain itu, Rock In Solo 2015 juga menjadi perayaan dibukanya gerbang menuju era baru dari festival ini. Seperti diungkapkan oleh salah satu Dewan Jenderal Rock In Solo dan juga pentolan Down For Life, Stephanus Adjie. Ia mengatakan, pemilihan tema ini juga merupakan salah satu langkah menuju era baru Rock In Solo yang lebih global.

Pemilihan venue sendiri sebenarnya diakui dilematis oleh Adjie. “Dalam setiap helatan Rock In Solo, kami akui venue selalu menjadi kendala kami,” ujar Adjie. Ia mengaku, sebenarnya pihak penyelenggara (The Think Organizer) memiliki banyak opsi untuk venue kali ini. Namun dengan berbagai pertimbangan kenyamanan dan izin, akhirnya Lapangan Parkir Stadion Manahan yang menjadi pilihan. “Lapangan Parkir Stadion Manahan kami pilih untuk menghindari debu yang sangat mengganggu ketika tahun lalu di Benteng Vastenburg. Juga untuk menghindari lumpur karena saat ini telah memasuki musim penghujan. Kami cukup bersyukur dengan dipilihnya venue ini,” lanjutnya.

Pemilihan ini dirasa tepat, terbukti para penonton kini tak lagi ragu untuk melakukan moshing yang liar, menciptakan wall of death, crowd surfing, dan melompat-lompat. Berbanding terbalik dengan tahun lalu dimana beberapa penonton memilih untuk menghindari debu dan menutupi hidung mereka dengan masker. Riak-riak moshpit mulai tercipta di bagian depan ketika Carnivored menunjukkan keliaran di atas panggung. Tampak Baken Nainggolan (Hellcrust) dan David Salim (Djin) mengisi posisi gitar. Lagu-lagu andalan dari album No Truth Found menyerang kuping penonton secara bertubi-tubi, memancing riak moshpit yang semakin besar. Permainan yang kejam ditampilkan Carnivored, padu dan harmonis. Vokal Ronald mengaum penuh amarah dan bertenaga. Sayang, di beberapa lagu gitar David sempat mati.

Semakin sore, terik matahari mulai meredup dan venue semakin padat. Kapasitas venue yang tidak seluas Benteng Vastenburg membuat area di dalam sangat padat sehingga udara terasa panas. Panasnya venue memuncak ketika band rock oktan tinggi, Seringai mengambil alih panggung. Area moshpit semakin liar dan brutal, terutama ketika nomor-nomor pemancing adrenalin seperti “Skeptikal”, “Amplifier”, dan lagu yang jarang dibawakan sebelumnya, “Infiltrasi” membombardir penonton. Berbagai intruksi sang vokalis, Arian melalui lagu “Program Party Seringai” diamini oleh penonton. Mereka bertubrukan badan, tertimpa kawan yang crowd surfing, terkena hantaman siku, berlari berkeliling moshpit, dan membelah dua bagian penonton. Tampak para personel Seringai menikmati pemandangan tersebut. Gila sekali suasana moshpit saat itu, seketika tubuh terasa lelah dan dahaga menyeruak setelah Seringai menutup set-nya dengan rentetan lagu “Kilometer Terakhir”, “Dilarang Di Bandung”, dan “Ace of Spades” dari Motörhead.


Memang seperti menjadi kerinduan tersendiri bagi metalheads Solo untuk menyaksikan Seringai dan Burgerkill. Cukup lama mereka menanti kembalinya dua band ini ke kota Solo. Dan penonton pun menyambut dengan baik sosok-sosok yang dirindukan tersebut dengan cara yang benar dan memorable. Para kru Burgerkill mulai naik ke atas panggung menyiapkan segala sesuatunya. Memanfaatkan waktu senggang ini, saya menyempatkan diri mengisi perut dan melepas dahaga di area foodcourt sembari menyaksikan jumlah penonton yang terus bertambah.

Memasuki jam setengah lima sore, lagu “Atur Aku” dari Burgerkill membuka kembali moshpit yang tertunda. Karena kondisi tubuh masih belum pulih akibat "berpesta" sebelumnya dengan Seringai, akhirnya saya memutuskan menyaksikan Burgerkill dari baris tengah saja. Vicky Mono hari ini komunikatif sekali, banyak membicarakan hal ini dan itu kepada penonton. Raut wajah Agung sempat terlihat kesal ketika gitarnya tiba-tiba mati di tengah lagu baru yang sedang dibawakan, “Undefeated”. Sesuai prediksi ketika pertama kali mendengarkan lagu ini, gerakan-gerakan penonton di area moshpit  semakin liar. Lagu yang kental nuansa thrash dan hardcore ini seperti menyuntik semangat penonton. Burgerkill tampil tanpa ampun, prima seperti biasanya dan hanya masalah teknis yang mengganggu.

“Under The Scars” yang diambil dari album Venomous menutup sore yang panas dan brutal hari itu. Pihak penyelenggara memberikan waktu jeda selama 1 jam lebih sebelum dua penampil utama, Unearth dan Nile. Kondisi ini dimanfaatkan oleh para penonton untuk mengisi ulang energi dan beribadah bagi kaum muslim. Jeda yang panjang menjadi strategi pihak penyelenggara untuk mengantisipasi kejadian tahun lalu, dimana penonton sudah kehabisan energi saat Carcass tampil. Terdapat beberapa hal berbeda dari gelaran festival Rock In Solo kali ini, salah satunya adalah diizinkannya penonton untuk membawa segala jenis kamera ke dalam venue. Untungnya, penonton yang membawa kamera profesional tidak banyak sehingga kekhawatiran akan kenyamanan menonton tidak terwujud.

Seharusnya, band metalcore asal Australia, I Killed The Prom Queen tampil setelah Burgerkill. Namun, mereka tertahan di Malaysia karena promotor mereka di Malaysia (Sebelum ke Solo, mereka tampil terlebih dahulu di Malaysia) tidak memiliki visa untuk mereka. Band kemudian ditahan di kantor imigrasi Malaysia. “Kemungkinan kami akan ditahan di sini selama 4-14 hari,” kicau gitaris Jona Weinhofen di Twitter. I Killed The Prom Queen pun resmi batal tampil di Rock In Solo 2015.

Pukul 7 malam, gitaris Unearth, Buz McGrath naik ke atas panggung dan mempersiapkan peralatan tempur band. McGrath, gitaris Ken Susi, dan vokalis Trevor Phipps termasuk pendiri band yang masih bertahan hingga sekarang, sementara drummer Nick Pierce baru bergabung pada 2012 dan posisi bass diisi oleh musisi tamu, Chris O’Toole. Album-album Unearth cukup berpengaruh terhadap perkembangan musik metal hardcore di seluruh dunia, termasuk di Indonesia. Penampilannya di Rock In Solo menjadi kali ketiga di Indonesia dalam setahun, setelah di Hammersonic Festival pada Maret lalu dan Rock In Celebes sehari sebelum di Solo. Penonton tampak sudah tidak sabar, mereka mulai berteriak-teriak, sebuah pernyataan perang jika energi mereka sudah terkumpul kembali.

Segera saja, “Watch It Burn” menghujam penonton yang secara spontan bergerak menghantam sekitarnya. Tata suara dalam penampilan Unearth ini tebal dan jernih, membuat melodi-melodi yang dilancarkan McGrath dan Susi mengalun tajam di telinga. Bahkan Trevor turut memujinya, “Sound-nya sangat bagus!” Strategi penyelenggara cukup berhasil sejauh ini, penonton tak henti bergerak sepanjang penampilan Unearth. Repertoar andalan dari album terakhir, Watchers of Rule, “The Swarm” dan “Never Cease” dibawakan malam itu. Cukup sulit untuk menerobos ke barisan depan, kepadatan penonton mulai memuncak dan sulit bergerak bebas terutama bagi yang berada di baris tengah. Rif dan melodi yang dilancarkan duo McGrath dan Susi mengalir deras tanpa cela. Sesekali Susi bernyanyi di beberapa bagian lagu “Last Wish” dan “Endless”. Lingkaran besar tercipta ketika “My Will Be Done” dimainkan. Penampilan Unearth sangat memuaskan dan jauh lebih baik ketimbang di Hammersonic lalu. Ditunjang tata suara yang bagus dan penonton yang antusias, pesta pun berlangsung klimaks.

Unearth menutup penampilan sarat ayunan kepalanya dengan lagu “The Great Dividers”. Penonton kembali duduk dan menanti penampil utama terakhir, monster technical death metal asal AS, Nile. Sebuah backdrop bergambar logo Nile raksasa mulai dipasang di atas panggung, lalu gitaris Karl Sanders, Dallas Toler-Wade, drummer George Kollias, dan bassis Brad Parris mondar-mandir di atas panggung melakukan line check. Sepertinya Unearth dan Nile kompak membawa sedikit kru untuk tur di Asia Tenggara dan Australia kali ini. Karl beberapa kali memarahi kru panggung karena terdapat masalah pada mikrofonnya, “Hei, tolong perhatikan! Mikrofon ini mendengking!”

Band yang baru saja merilis album baru, What Should Not Be Unearthed ini mulai membakar panggung dengan “Sacrifice Unto Sebek”. Brutal dan agresif, semuanya bergerak cepat, mulai jari-jemari para gitaris dan bassis, pukulan drum, dan hentakan double bass dari George. Teknikalitas tinggi musik death metal bernuansa Timur Tengah yang disajikan oleh Nile mulai merangsang penonton untuk bergerak. Wall of death tercipta ketika lagu yang diambil dari album baru, “In The Name of Amun” dipresentasikan. Dallas sesekali menunjukkan ekspresi wajah bengis yang begitu menikmati musiknya. Setelah lagu ini selesai, Karl mengalami masalah teknis dengan gitarnya. “Saya pikir Karl merusak sesuatu. Kami memiliki kebiasaan buruk dalam merusak barang. Biasanya George yang senang merusak sesuatu, kali ini Karl,” ujar Dallas, tertawa. Karena cukup lama menunggu perbaikan teknis pada gitar Karl, Dallas berinisiatif melakukan solo gitar untuk menghibur penonton, tapi dalam beberapa detik ia hentikan kembali. “Kami bukan tipe band yang bermain solo, walaupun sedang bermain di festival Solo (Rock In Solo),” candanya.

Karl tersenyum membalas perkataan beberapa penonton yang memintanya untuk tidak merusak gitarnya lagi. Ia siap, agresi pun dilanjutkan dengan “The Howling of The Jinn”. Strategi penyelenggara untuk menjaga stamina penonton tampaknya tak sepenuhnya berhasil. Penonton mulai kehabisan energi dan beberapa yang di depan memilih mundur ketika 3 lagu terakhir mulai berjalan. Sudah tidak ada lagi gerakan-gerakan liar, hanya dua penonton yang terus melakukan headbang tanpa henti di baris depan yang sudah merenggang. Bahkan, beberapa di antaranya duduk dan tak sanggup lagi menanggapi derasnya musik Nile. Hingga akhirnya Nile menutup Rock In Solo 2015, sekaligus membuka era baru bagi festival ini, dengan hits “Black Seeds of Vengeance”. Terasa ada yang kurang dengan penampilan Nile, mereka tidak memainkan lagu yang mungkin paling terkenal di Indonesia, “Kafir!” Beberapa penonton berteriak-teriak meminta lagu itu dimainkan namun tidak digubris. Padahal lagu ini termasuk dari empat lagu yang selalu ada dalam setlist mereka.

Sukacita dan euforia sepanjang konser berlangsung menjadi kunci yang akan mengantarkan Rock In Solo untuk terus berjaya di era barunya. Tugas Rock In Solo ke depannya adalah untuk terus mempertahankan antusias penonton seperti ini. Berbagai pilihan band pengisi dan konsep acara akan terus menjadi tantangan bagi pihak penyelenggara ke depannya. Patut ditunggu, Rock In Solo 2016!

Thursday, 7 May 2015

Live Review: Killswitch Engage













Minggu, 3 Mei 2015. Auditorium Ancol Beach City, Jakarta.

Auditorium Ancol Beach City tampak lengang pada sore (3/5) itu. Tempat yang menjadi tuan rumah pergelaran perdana festival Sonic Fair ini terlihat tidak terlalu dipadati penonton, meski begitu, tampak beberapa kerumunan massa hitam-hitam telah berada di sekitar lokasi.

Semakin malam terjadi peningkatan jumlah penonton yang berada di dalam auditorium, meski tidak terlalu signifikan. Namun, sekitar 300 penonton ini tampaknya telah siap untuk mengeluarkan seluruh energi mereka untuk sajian utama di penghujung acara, yaitu Killswitch Engage yang tampil untuk pertama kalinya di Indonesia.

Benar saja, ketika Killswitch Engage mulai menghujam telinga penonton dengan lagu pertama mereka malam itu, “Fixation on The Darkness”, koor massal terjadi sepanjang konser. Sayatan riff dan melodi yang dipresentasikan oleh duo Adam Dutkiewicz dan Joel Stroetzel, lalu dentuman bass dari Mike D’Antonio serta pukulan drum Justin Foley, berhasil berintegrasi dengan jahatnya raungan vokalis Jesse Leach, yang juga memiliki suara merdu ketika bernyanyi.

Band yang lahir dengan musik hasil gabungan dari swedish melodic death metal dan hardcore ini, menyajikan musik yang memadukan antara agresi dan kelembutan. Agresi ditunjukkan melalui riff-riff agresif, tempo yang cepat ala hardcore, dan blast beat di beberapa bagian. Sementara bagian lembutnya hadir ketika Jesse Leach bernyanyi, serta isi lirik yang membahas kehidupan, patah hati, atau sosok yang dicintai.

Berbagai highlight dari lagu-lagu terbaik Killswitch Engage dibawakan pada malam itu, mulai dari “This Is Absolution”, “Beyond The Flames”, “The Arms of Sorrow”, “In Due Time”, hingga “New Awakening”. Lingkaran moshpit menjadi semakin liar ketika “Rose of Sharyn” menghantam pengeras suara. Lagu yang diambil dari album The End of Heartache ini menunjukkan pengaruh kuat album Slaughter of The Soul dari At The Gates terhadap musik mereka.

Tata cahaya panggung yang memukau berhasil memberikan tampilan yang menarik, berpadu dengan gerakan lincah para personel. Gitaris eksentrik, Adam Dutkiewicz beberapa kali melakukan atraksi dengan Joel dan Mike. Lalu, Jesse yang turun ke barikade untuk menghampiri penonton dan bernyanyi bersama.

“Suatu kehormatan berada di sini bersama kalian. Kami sempat mengalami masalah di bandara Tiongkok sebelum ini, tapi kami bahagia akhirnya bisa tampil di sini,” ujar Jesse. Malam itu, Jesse menunjukkan jika ia adalah sosok yang pantas untuk kembali menjadi pentolan band, ia membawakan lagu-lagu yang dulu dinyanyikan Howard Jones dengan baik.

Untuk menurunkan tempo dan beristirahat sejenak, lagu balada “Always” dari album baru Disarm The Desecent, dikumandangkan. Penonton menanggapinya dengan mengangkat tangan sembari melanjutkan koor yang masih terus mengiringi penampilan band sepanjang konser.

Lagu-lagu andalan selanjutnya, seperti “My Last Serenade” dan “My Curse” menjadi salah satu momen paling berisik, dimana penonton melompat-lompat dan mengepalkan tangan ke udara. Total 14 lagu yang dibawakan pada malam itu berhasil memancing penonton untuk mengeluarkan seluruh energi.

Lagu pamungkas, “The End of Heartache” mengakhiri penampilan Killswitch Engage yang telah ditunggu-tunggu di Indonesia. Meski terlihat kelelahan, penonton berteriak, “We want more! We want more!” dan menanti sejenak apakah band akan kembali ke atas panggung. Namun, pada akhirnya Killswitch Engage pun pamit dan tak ada encore malam itu. “All in due time….”


Photo by: Musik Jurnal

Friday, 20 March 2015

Assassin's Creed Rogue, The Hawk of Betrayal



Dalam game seri Assassin's Creed bertajuk Rogue ini, tidak banyak yang berubah dalam gameplay karena masih terasa seperti Black Flag dengan perang kapal, menjelajahi pulau, crafting, berburu, dan sebagainya. Namun, sensasi dalam berpetualang mengumpulkan collectible items menjadi senjata yang begitu adiktif dari Ubisoft. Pemain dapat menghabiskan waktu yang lama dalam bermain game ini, walau storyline-nya pendek, karena hasrat untuk menjelajah yang tinggi.

Ceritanya pun patut diacungi jempol bila dibandingkan dengan Assassin's Creed 3 atau Black Flag. Shay Patrick Cormac, seorang Assassin, harus berkhianat demi kepentingan umat manusia. Ia bergabung dengan Templar dan balik memburu para Assassins dengan mentor Achilles (kelak menjadi mentor Connor Kenway di AC3).

Pemain sepenuhnya akan merasakan bagaimana menjadi Templar dalam Rogue. Shay akan memiliki aktivitas sampingan untuk menggagalkan sebuah misi assassination dari para Assassins dan juga menggagalkan upaya Assassins membunuhnya melalui stalkers. Beberapa fitur lainnya adalah Naval Campaign, merebut Fort dan Gang Headquarters, serta melakukan renovasi di seluruh dunia untuk menancapkan kekuasaan Templar.

Kelebihan lainnya dari Assassin's Creed Rogue adalah game yang optimal sehingga nyaman untuk dimainkan di PC atau laptop. Meski kualitas gambar tidak sebagus Assassin's Creed Unity, namun kenyamanan lebih baik daripada banyak masalah seperti bugs. Pemain akan dibawa menjelajahi daerah North Atlantic yang bersalju, dimana Shay tidak dapat berlama-lama di dalam air atau ia akan mati kedinginan. Selain itu, Shay juga akan menancapkan kekuasaan Templar di New York dan membersihkannya dari kontrol Assassins.

Akhir dari kisah ini akan menghubungkan ceritanya ke Assassin's Creed Unity dan bagaimana Achilles menjadi Assassin yang tidak aktif di AC3,

Sebuah game yang asik untuk dimainkan dan salah satu yang terbaik dari seri Assassin's Creed.

As I Lay Dying, Pusaka Metalcore Jagat Raya



Sekitar tujuh tahun lalu, musik metalcore yang sedang naik ke permukaan menjadi sebuah candu bagi para penggemar musik metal remaja, terutama anak-anak sekolah. Tentu saja selain pengaruh kuat dari lagu-lagu Burgerkill di album Beyond Coma and Despair, Beside dengan Against Ourselves, dan Down For Life dengan Simponi Kebisingan Babi Neraka, beberapa band di luar Indonesia pun memiliki pengaruh sangat kuat terhadap perkembangan musik metalcore di Tanah Air.

Salah satunya adalah band metalcore asal San Diego, California, Amerika Serikat, As I Lay Dying. Saya sendiri jatuh hati pada AILD (As I Lay Dying) sejak mendengar lagu "94 Hours" yang dikirimkan oleh teman melalui perangkat bluetooth ketika SMA. Setelah itu, muncul rasa penasaran tentang band ini. Kemudian saya menjelajah diskografi mereka mulai dari album Beneath The Encasing of Ashes yang dirilis pada 2001, Frail Words Collapse (2003), Shadows Are Security (2005), dan An Ocean Between Us (2007).

Penggemar musik metalcore pasti tidak bisa melewatkan lagu-lagu dari album ini, dimana intensitas yang diberikan As I Lay Dying terus meningkat. Simak lagu-lagu seperti "Through Struggle", "Confined", "Forever", "An Ocean Between Us", "Forsaken", dan "The Sound of Truth" yang memorable, membalut riff agresif dengan vokal clean yang tidak menye-menye, dan melodi yang memanjakan telinga. 


Musik melodic metalcore yang diusung As I Lay Dying merupakan gabungan dari musik melodic death metal Gothenburg dan hardcore punk. Permainan sarat tenaga dari drummer Jordan Mancino dan otak brilian dari vokalis Tim Lambesis dalam menciptakan lagu menjadi kunci As I Lay Dying untuk terus berkembang dari album satu ke album lainnya. Perkembangan ini juga dipengaruhi oleh kehadiran Phil Sgrosso (gitar), Nick Hipa (gitar), dan Josh Gilbert (bass) yang memperkuat fondasi band, karena mereka turut membantu Tim dalam menciptakan lagu baru.


Album dan DVD As I Lay Dying laku keras, bahkan An Ocean Between Us mampu memuncaki tangga lagu Rock di Billboard 200. Pada 2008, mereka juga masuk dalam nominasi Grammy Awards untuk nominasi "Best Metal Performance" dengan lagu "Nothing Left".

Setelah itu, lahir album-album baru, yaitu The Powerless Rise (2010) dan Awakened (2012), yang masih menjaga dengan baik intensitas melodic metalcore ala As I Lay Dying. Berbeda dengan band-band lainnya yang semakin melemah dan kehilangan akarnya, seperti Bring Me The Horizon, All That Remains, dan Caliban, kuintet ini mampu terus dicintai para penggemarnya dengan musik yang selalu memuaskan. Lagu-lagu yang tidak terlupakan dari album ini adalah "A Greater Foundation", "No Lungs to Breathe", "Parallels", "Anodyne Sea", dan "Tear Out My Eyes". 

AILD mendapat penghargaan sebagai Metal Band of The Year oleh Loudwire setelah merilis Awakened. Namun, album Awakened yang memberikan sebuah suasana baru dalam musik band, justru menjadi album terakhir As I Lay Dying sebelum mereka harus tidur panjang.

Ya, kasus rencana pembunuhan yang menjerat Tim Lambesis untuk sementara mengakhiri kisah As I Lay Dying dalam berkarya. Ia mendapat hukuman penjara selama enam tahun dan yang mencengangkan adalah pengakuannya jika band Christian metalcore yang dianut As I Lay Dying hanyalah strategi pasar. As I Lay Dying sebelumnya terkenal dengan penggunaan lirik yang berdasar kitab injil atau tentang agama Kristen. Gitaris Nick Hipa lalu menyangkal dan mengecam komentar Lambesis tersebut.

Empat personel As I Lay Dying yang tersisa kemudian membentuk sebuah band baru bernama Wovenwar bersama Shane Blay sebagai vokalis. Sayang, musik yang diberikan tidak sesuai harapan dan terdengar seperti band post hardcore kebanyakan.

Perpecahan pun mengawali tidur panjang As I Lay Dying, situs resmi band hanya mencantumkan nama Tim Lambesis dan Jordan Mancino sebagai anggota band. Memang masih ada band-band metalcore bagus lainnya, seperti Killswitch Engage, Unearth, dan Heaven Shall Burn, tetapi kerinduan terhadap As I Lay Dying akan terus dirasakan.

As I Lay Dying merupakan inspirasi saya dalam membentuk band pada tahun 2010 dan hingga kini, lagu-lagu mereka takkan pernah berhenti menemani.

"Sometimes we have to watch our whole lives fall apart, 
before we can rebuild them again - a greater foundation."

As I Lay Dying is sleeping rather than dead...



Thursday, 19 February 2015

The Impossible Dream. Sir Alex, 26 Years Made Possible


“The Impossible Dream. Sir Alex, 26 Years Made Possible,” kalimat ini terbentang di spanduk yang menghiasi Stretford End, stadion Old Trafford milik Manchester United. Sebuah spanduk penghormatan dan ucapan terima kasih atas jasa besar Sir Alex Ferguson dalam memberikan kejayaan untuk Man United selama 26 tahun melatih. 

Sir Alex Ferguson, melatih MU pertama kali pada 1986, saat itu ia mengalami kesulitan, dan beberapa musim tanpa piala hingga akhirnya mampu menjuarai piala FA pada 1990. Kisah indahnya dimulai dari sini, piala Liga menjadi rengkuhan selanjutnya pada 1992, kemudian mampu meraih titel juara liga pada musim 1992/93. Setelah itu pasukan Setan Merah di bawah asuhan Sir Alex Ferguson tidak terhentikan dan bangkit menjadi salah satu tim terbesar di dunia. Hingga musim terakhirnya di MU pada 2012/13, Sir Alex telah mempersembahkan 18 gelar juara Liga Inggris, 2 gelar Liga Champions, dan 5 piala FA. 

Mungkin berat bagi para penggemar United melihat kursi pelatih tidak lagi diisi oleh Sir Alex, apalagi bagi saya yang sejak awal menyukai United di bawah kendali Sir Alex. Sejak kecil saya mengidolakan United. Saya ingat, hal yang pertama kali membuat saya menyukai United adalah David Beckham, ketika itu jika ada tendangan bebas yang akan dieksekusi oleh Beckham, saya selalu percaya akan gol. Dan seringnya memang benar, kaki Beckham memang ajaib. 

Selain Beckham, faktor Sir Alex dan angkatan 1992-nya juga menjadi magnet kenapa saya menyukai United. Posisi Sir Alex tidak pernah goyah, ia adalah pelatih yang tegas dan keras, tetapi efektif dalam membangun klub. Kejadian ‘sepatu terbang’ pada 2003 benar-benar membuat saya terpukul, karena mungkin hal ini yang menjadi penyebab Beckham pindah ke Real Madrid di musim selanjutnya. Setelah kalah 0-2 dari Arsenal, Fergie geram dan menendang sepatu di ruang ganti, tanpa disengaja ternyata sepatu itu mengenai pelipis Beckham. 

Media pun langsung heboh dan kisah ‘sepatu terbang’ naik ke permukaan, desas desus Beckham pergi akhirnya benar, sang idola pun tak lagi di klub kesayangan. Sir Alex kemudian mendapatkan suntikan baru dalam tim, menghadirkan Wayne Rooney dan Cristiano Ronaldo, yang mampu mengembalikan kejayaan United setelah beberapa musim direbut Arsenal. 

Insting Fergie dalam membeli pemain memang hebat, walau beberapa di antaranya ada yang tidak berguna, contohnya Bebe. Tapi, ia mampu menghadirkan pemain-pemain seperti Edwin Van Der Sar, Nemanja Vidic, Rio Ferdinand, Patrice Evra, Michael Carrick, dan Carlos Tevez yang menjadi pilar penting dalam menjaga konsistensi United. Patut disayangkan United harus kalah dua kali di Final Liga Champions melawan Barcelona, benar-benar lawan yang tangguh dan harus dibalas di kemudian hari nanti. 

Gelar demi gelar yang diraih Fergie seperti memberikan rasa tenang bagi para penggemar United, lama kelamaan meraih juara itu terasa biasa. Mungkin seperti Michael Schumacher ketika masa jayanya di Ferrari. Apalagi ketika gelar ke-19 resmi direngkuh dan mengukuhkan United sebagai raja baru di Inggris, menggeser Liverpool dengan 18 gelarnya. Padahal pada awal ia melatih United, perbandingan gelar juara Liga Inggris antara United dan Liverpool adalah 7-16. Luar biasa! 

Kini, sang pelatih tak lagi menukangi United, keputusan telah ia buat untuk pensiun pada 2013 lalu. Tak hanya penggemar yang kecewa, bahkan Robin Van Persie pun mengungkapkan kekecewaannya. Penggantinya, David Moyes gagal total, dan saat ini Louis Van Gaal belum memberikan jaminan yang pasti untuk mengembalikan United ke dalam kejayaan. Mungkin keinginan Wayne Rooney beberapa musim sebelum ini untuk pindah akan terlaksana, mungkin United benar-benar butuh ketajaman seperti yang dimiliki Eric Cantona, Ruud Van Nistelrooy, Andy Cole, Dimitar Berbatov, atau Robin Van Persie di musim ketika Sir Alex masih melatih. Sulit mengharapkan Wayne Rooney bisa kembali ke masa dimana ia masih dijuluki wonderkid dan selalu bisa diandalkan di depan gawang.

Memang terkadang gaya bermain yang disajikan United era Fergie bukanlah permainan sepak bola menawan seperti kebanyakan tim sepak bola modern saat ini. Namun, efektifitas adalah kunci kejayaan United bersama Fergie. Beberapa ciri khas dari gaya melatih Fergie yang takkan terlupakan adalah hairdryer treatment, sebuah istilah bagaimana Fergie 'menangani' ruang ganti United ketika keadaan di lapangan sedang buruk. Lalu, Fergie's Time yang selalu mengingatkan United untuk tidak menyerah hingga peluit tanda permainan berakhir berbunyi. Dan tentunya julukan The Comeback Kings, menunjukkan mental United yang sudah sangat terasah dan sering mengembalikan keadaan.

Bagaimanapun, Sir Alex telah meninggalkan warisan yang sangat berharga untuk United, kegigihan dan kepiawannya dalam melatih United selalu menjadi inspirasi bagi saya dan semua penggemar United. Be well and thanks a lot, Boss!

Tom Clancy's Splinter Cell® Blacklist™











Game seri Tom Clancy memang tidak pernah mengecewakan, begitulah kira-kira perasaan ketika menyelesaikan game Splinter Cell: Blacklist hingga tamat. Kali ini Sam Fisher (tokoh utama) tidak bekerja hanya dibantu oleh Anna Grimsdottir, tetapi memiliki tim yang terdiri dari ahli peretas, Charlie Cole dan prajurit yang membantu Fisher di lapangan, Isaac Briggs.

Kelompok Fisher bermarkas di sebuah pesawat bernama Paladin, dimana semua komando misi diarahkan dari sini dalam memburu musuh terbaru mereka, Blacklist.

Game garapan Ubisoft ini menghadirkan visual yang cukup realistis dan dinamis, tidak heran karena Splinter Cell: Blacklist menggunakan mesin Unreal Engine. Selain visual yang nyaman di mata, gameplay pun tak jauh beda dengan Splinter Cell: Conviction, dimana Fisher dapat membawa beberapa senjata, gadget, dan melakukan ‘eksekusi’ yang menjadi ciri khas game ini.

Fitur yang berbeda adalah pesawat Paladin yang dapat di-upgrade, yang dapat memberikan senjata-senjata ekstra atau kebutuhan lainnya yang sangat membantu dalam misi. Selain itu, Fisher juga dapat mengatur kustomisasi dari Ops-Suit yang digunakan, bisa menggunakan kostum khusus stealth atau untuk perang terbuka. Terdapat berbagai macam senjata yang bisa dibeli di pesawat dan upgrade google yang biasa digunakan Fisher.

Musuh-musuh Fisher di Splinter Cell: Blacklist tidak semuanya dapat ditembak di kepala, karena beberapa ada yang menggunakan helm pelindung atau heavy infantry yang menggunakan armor tebal. Di beberapa misi juga Fisher akan menghadapi anjing yang dapat melacak keberadaannya dan drone yang bisa self destruct. Mengingatkan kembali ke game FPS tersohor, Call of Duty.

Misi-misi yang dijalani Fisher tersebar di seluruh dunia, player akan merasakan lokasi yang berbeda-beda, mulai dari Asia, Eropa, hingga Amerika. Masing-masing anggota tim juga akan memberikan side mission yang memiliki karakteristik atau cara penyelesaian sendiri.

Memang telat bagi saya memainkannya, tetapi benar-benar game yang menyenangkan. Tidak perlu mengejar status Ghost untuk menyelesaikan misi, karena hal yang menyenangkan datang ketika menghadapi musuh secara langsung. Overall, cerita dan grafiknya mantap, patut dinanti petualangan selanjutnya dari Fisher dalam mengejar dalang di balik Blacklist.

Wednesday, 18 February 2015

Live Review: Avenged Sevenfold (Jakarta, 2015)

Minggu, 18 Januari 2015. Parkir Timur Senayan, Jakarta.

Mengalami perubahan arah musik dan juga kehilangan besar setelah drummer yang juga penulis lagu, James “The Rev” Sullivan wafat, ternyata tak mampu mengurangi kesetiaan penggemar Avenged Sevenfold di Indonesia. Area Parkir Timur Senayan menjadi saksi bagaimana antusiasme para penggemar Avenged Sevenfold yang rela mengantri di pintu masuk venue sejak sore.


Di luar dugaan, ternyata tidak hanya anak-anak muda yang datang untuk melihat langsung aksi kuintet metal asal AS tersebut, tampak orang-orang dewasa pun tak mau kalah. Bahkan musisi senior, Ikang Fawzi terlihat di antara kerumunan para penonton.

Pukul 20.00 WIB, massa hitam-hitam di depan panggung yang telah menanti penampilan M. Shadows (vokal), Synyster Gates (gitar), Zacky Vengeance (gitar), Johnny Christ (bass), dan Arin Ilejay (drum) ini dikejutkan dengan lagu “Indonesia Raya” yang tiba-tiba berkumandang. Kemudian Avenged Sevenfold seperti ingin memperjelas musisi yang mempengaruhi mereka kepada penonton, dengan menyalakan musik Metallica “Ride The Lightning”, Pantera “Walk”, dan AC/DC “Back In Black” secara berturut-turut sebagai bagian pembuka konser.

Urutan dan jumlah lagu yang dimainkan Avenged Sevenfold malam itu bukanlah sebuah kejutan, karena sama persis dengan apa yang mereka mainkan di Seoul, Hong Kong, dan Taipei. “Shepherd of Fire” yang diambil dari album Hail To The King mengawali penampilan penuh energi dari band sepanjang konser. Para personil tampak tak lelah menjelajah setiap sudut panggung, kecuali drummer Arin Ilejay tentunya.

Konser pertama bagi Arin di Indonesia ternyata tak cukup mulus, tampak seorang penonton di bagian depan membawa poster yang mengejek Arin bertuliskan, “Saya dapat bermain drum lebih baik dari Arin.” Namun hal itu tak mengganggu permainannya, Arin mampu mengisi posisi The Rev dengan baik dan juga menunjukkan antusiasme dalam memainkan drum yang ekspresif, sayangnya pukulan drum yang ia isi untuk album Hail To The King kurang variatif.

Beralih ke lagu “Critical Acclaim”, duo gitaris Synyster Gates dan Zacky Vengeance menyuguhkan permainan harmoni ditemani double pedal yang konstan dari Arin. Duet Synyster dan Zacky dalam memainkan teknik dual gitar memang sudah menjadi ciri khas band selama ini. Penonton tak bisa diam saja melihat penampilan seperti itu, tampak semuanya berjingkrak dan memberikan kepalan tangan ke udara.

“Kami mendapatkan insiden ketika terakhir kali ke sini (konser mereka di Jakarta pada 2012 lalu harus dibatalkan), kini kami akan memberikan semuanya! Lagu ini untuk seluruh keluarga Avenged Sevenfold di dunia,” ujar Shadows yang diikuti pukulan drum Arin mengawali lagu “Welcome To The Family”. Tampak visual logo tengkorak dengan sayap kelelawar raksasa (biasa disebut deathbat) di layar dengan latar bendera Indonesia menghiasi lagu ini.

Promotor Dyandra Entertainment patut diacungi jempol dengan produksi panggung yang megah dan mewah, layar LED raksasa di belakang panggung dan di samping kiri serta kanan, tata cahaya yang menawan, dan produksi suara yang menggelegar. Sebuah mobil pemadam kebakaran rajin menembakkan air ke ribuan penonton yang merasa gerah dan panitia pun rajin melempar air mineral kepada penonton.

“Pertama kalinya kami ke wilayah Asia Tenggara adalah ke Jakarta, dan tempat ini selalu menjadi favorit kami,” ujar M. Shadows. Berturut-turut lagu “Hail To The King” dan “Beast & The Harlots” dimainkan, lalu dilanjutkan sebuah lagu balada “Buried Alive” yang Metallica-esque. Riff di bagian akhir lagu ini mengingkatkan ke lagu instrumental Metallica, “Orion”. Masih dalam suasana yang tenang, lagu terkenal “Seize The Day” dimainkan, sontak para penonton ikut bernyanyi dan menggerakkan tangan di udara.

Daftar lagu yang dimainkan Avenged Sevenfold malam itu dapat dibilang ‘aman’ bagi para penggemar, karena berbagai hits turut dimainkan seperti “Nightmare” yang dengan galak menghujam penonton dengan riff-riff yang agresif dan berat, lalu “Chapter Four”, “Almost Easy”, dan “Afterlife”. Sang gitaris Synyster Gates sempat memainkan solo gitar di tengah konser, menunjukkan gerakan jari jemarinya yang sangat cepat berpindah fret, ia memainkan teknik-teknik gitar seperti sweeping, lick, tapping, dan petikan gitar yang cepat.

Salah satu bagian menarik dalam konser ini adalah ketika lagu “This Means War” dimainkan, lagu yang terdengar mirip dengan “Sad But True” milik Metallica. Bahkan M. Shadows turut menggunakan kata, “Do you want something heavy?” ketika akan memainkan lagu ini mirip dengan apa yang biasa dikatakan pentolan Metallica, James Hetfield. M. Shadows sendiri mengakui jika “This Means War” memang sangat terinspirasi oleh “Sad But True”.

Sebuah melankolia, “Acid Rain” yang berasal dari album Hail To The King kemudian dimainkan dan seperti menjadi momen untuk beristirahat sebelum encore. Benar saja, encore malam itu diawali lagu yang melambungkan nama band di awal karirnya, “Unholy Confessions”. Lagu yang diambil dari album Waking The Fallen ini mampu memecah moshpit di beberapa bagian penonton dilanjutkan “Bat Country” yang masih bertempo cepat.

Encore kedua sekaligus penutup konser, Avenged Sevenfold membawakan sebuah lagu unik yang terdengar seperti lagu karnaval bernuansa gothic, “A Little Piece of Heaven”. Tiga lagu yang tepat untuk sebuah encore, dimana seluruh energi penonton benar-benar dimaksimalkan di bagian akhir. Secara keseluruhan penonton takkan merasa merugi telah membeli tiket. Akhir menyenangkan untuk sebuah konser yang megah.