Sunday, 24 April 2016
Live Review: Rock In Solo 2015
jovieyordan
14:01
No comments
Rock In Solo 2015 resmi menginjak tahun ke-11, melewati satu dekade pemberontakan dari anak haram kebudayaan yang bergerilya membangun identitas festival ini sebagai festival berskala internasional dan menjadi yang terbesar di Jawa Tengah. Nama-nama artis internasional mewarnai perhelatan Rock In Solo beberapa tahun belakangan, seperti Psycroptic, Dying Fetus, Cannibal Corpse, Behemoth, Hour of Penance, Death Angel, Kataklysm, dan Carcass. Setelah digelar pertama kali pada 2004 silam, Rock In Solo terus membuktikan diri menjadi festival musik keras yang eksis dan tetap menjaga kearifan lokal, baik dalam segi band pengisi maupun tema acara.
Masih diingat pada beberapa edisi sebelumnya Rock In Solo menampilkan parade Marching Band Keraton yang menegaskan wujud kecintaan pihak penyelenggara terhadap kebudayaan Solo dan tentunya menjadi pesan tersendiri bagi para penonton. Lama-kelamaan, selain sebagai tujuan wisata budaya dan kuliner, Solo memiliki wisata alternatif lain, yaitu wisata metal yang dapat dinikmati setiap tahunnya melalui Rock In Solo.
Hal ini terlihat dari kerumunan massa hitam-hitam yang berkerumun di sekitar Lapangan Parkir Stadion Manahan, yang menjadi venue perhelatan akbar Rock In Solo ke-9 pada Minggu (15/11). Banyak sekali penonton yang mengenakan kaos Rock In Solo edisi-edisi sebelumnya, secara tidak langsung menunjukkan jika Rock In Solo telah memiliki penonton setia yang rutin datang setiap tahunnya. Namun, ada rasa miris dalam hati ketika memasuki area venue, dimana banyak dijumpai pedagang kaos-kaos bajakan di luar pintu masuk. Ini sudah seperti agenda tersendiri bagi pedagang kaos bajakan, yang kini banyak dijumpai di berbagai konser besar di Indonesia. Padahal di dalam venue tersedia berbagai macam suvenir metal orisinil yang menarik dari Bowsound, Belukar, Sepsis Records, dan sebagainya.
Tema Metal Against Racism terpampang jelas di atas panggung. Tema ini dipilih oleh pihak penyelenggara untuk memperluas jangkauan dengan target massa yang lebih global. Bentuk kepedulian terhadap isu kesetaraan suku, agama, ras, dan golongan disampaikan melalui tema ini. Apalagi beberapa waktu lalu kancah musik metal Indonesia sempat diguncang oleh isu rasisme dalam suatu konser yang mengatasnamakan metal. Selain itu, Rock In Solo 2015 juga menjadi perayaan dibukanya gerbang menuju era baru dari festival ini. Seperti diungkapkan oleh salah satu Dewan Jenderal Rock In Solo dan juga pentolan Down For Life, Stephanus Adjie. Ia mengatakan, pemilihan tema ini juga merupakan salah satu langkah menuju era baru Rock In Solo yang lebih global.
Pemilihan venue sendiri sebenarnya diakui dilematis oleh Adjie. “Dalam setiap helatan Rock In Solo, kami akui venue selalu menjadi kendala kami,” ujar Adjie. Ia mengaku, sebenarnya pihak penyelenggara (The Think Organizer) memiliki banyak opsi untuk venue kali ini. Namun dengan berbagai pertimbangan kenyamanan dan izin, akhirnya Lapangan Parkir Stadion Manahan yang menjadi pilihan. “Lapangan Parkir Stadion Manahan kami pilih untuk menghindari debu yang sangat mengganggu ketika tahun lalu di Benteng Vastenburg. Juga untuk menghindari lumpur karena saat ini telah memasuki musim penghujan. Kami cukup bersyukur dengan dipilihnya venue ini,” lanjutnya.
Pemilihan ini dirasa tepat, terbukti para penonton kini tak lagi ragu untuk melakukan moshing yang liar, menciptakan wall of death, crowd surfing, dan melompat-lompat. Berbanding terbalik dengan tahun lalu dimana beberapa penonton memilih untuk menghindari debu dan menutupi hidung mereka dengan masker. Riak-riak moshpit mulai tercipta di bagian depan ketika Carnivored menunjukkan keliaran di atas panggung. Tampak Baken Nainggolan (Hellcrust) dan David Salim (Djin) mengisi posisi gitar. Lagu-lagu andalan dari album No Truth Found menyerang kuping penonton secara bertubi-tubi, memancing riak moshpit yang semakin besar. Permainan yang kejam ditampilkan Carnivored, padu dan harmonis. Vokal Ronald mengaum penuh amarah dan bertenaga. Sayang, di beberapa lagu gitar David sempat mati.
Semakin sore, terik matahari mulai meredup dan venue semakin padat. Kapasitas venue yang tidak seluas Benteng Vastenburg membuat area di dalam sangat padat sehingga udara terasa panas. Panasnya venue memuncak ketika band rock oktan tinggi, Seringai mengambil alih panggung. Area moshpit semakin liar dan brutal, terutama ketika nomor-nomor pemancing adrenalin seperti “Skeptikal”, “Amplifier”, dan lagu yang jarang dibawakan sebelumnya, “Infiltrasi” membombardir penonton. Berbagai intruksi sang vokalis, Arian melalui lagu “Program Party Seringai” diamini oleh penonton. Mereka bertubrukan badan, tertimpa kawan yang crowd surfing, terkena hantaman siku, berlari berkeliling moshpit, dan membelah dua bagian penonton. Tampak para personel Seringai menikmati pemandangan tersebut. Gila sekali suasana moshpit saat itu, seketika tubuh terasa lelah dan dahaga menyeruak setelah Seringai menutup set-nya dengan rentetan lagu “Kilometer Terakhir”, “Dilarang Di Bandung”, dan “Ace of Spades” dari Motörhead.
Memang seperti menjadi kerinduan tersendiri bagi metalheads Solo untuk menyaksikan Seringai dan Burgerkill. Cukup lama mereka menanti kembalinya dua band ini ke kota Solo. Dan penonton pun menyambut dengan baik sosok-sosok yang dirindukan tersebut dengan cara yang benar dan memorable. Para kru Burgerkill mulai naik ke atas panggung menyiapkan segala sesuatunya. Memanfaatkan waktu senggang ini, saya menyempatkan diri mengisi perut dan melepas dahaga di area foodcourt sembari menyaksikan jumlah penonton yang terus bertambah.
Memasuki jam setengah lima sore, lagu “Atur Aku” dari Burgerkill membuka kembali moshpit yang tertunda. Karena kondisi tubuh masih belum pulih akibat "berpesta" sebelumnya dengan Seringai, akhirnya saya memutuskan menyaksikan Burgerkill dari baris tengah saja. Vicky Mono hari ini komunikatif sekali, banyak membicarakan hal ini dan itu kepada penonton. Raut wajah Agung sempat terlihat kesal ketika gitarnya tiba-tiba mati di tengah lagu baru yang sedang dibawakan, “Undefeated”. Sesuai prediksi ketika pertama kali mendengarkan lagu ini, gerakan-gerakan penonton di area moshpit semakin liar. Lagu yang kental nuansa thrash dan hardcore ini seperti menyuntik semangat penonton. Burgerkill tampil tanpa ampun, prima seperti biasanya dan hanya masalah teknis yang mengganggu.
“Under The Scars” yang diambil dari album Venomous menutup sore yang panas dan brutal hari itu. Pihak penyelenggara memberikan waktu jeda selama 1 jam lebih sebelum dua penampil utama, Unearth dan Nile. Kondisi ini dimanfaatkan oleh para penonton untuk mengisi ulang energi dan beribadah bagi kaum muslim. Jeda yang panjang menjadi strategi pihak penyelenggara untuk mengantisipasi kejadian tahun lalu, dimana penonton sudah kehabisan energi saat Carcass tampil. Terdapat beberapa hal berbeda dari gelaran festival Rock In Solo kali ini, salah satunya adalah diizinkannya penonton untuk membawa segala jenis kamera ke dalam venue. Untungnya, penonton yang membawa kamera profesional tidak banyak sehingga kekhawatiran akan kenyamanan menonton tidak terwujud.
Seharusnya, band metalcore asal Australia, I Killed The Prom Queen tampil setelah Burgerkill. Namun, mereka tertahan di Malaysia karena promotor mereka di Malaysia (Sebelum ke Solo, mereka tampil terlebih dahulu di Malaysia) tidak memiliki visa untuk mereka. Band kemudian ditahan di kantor imigrasi Malaysia. “Kemungkinan kami akan ditahan di sini selama 4-14 hari,” kicau gitaris Jona Weinhofen di Twitter. I Killed The Prom Queen pun resmi batal tampil di Rock In Solo 2015.
Pukul 7 malam, gitaris Unearth, Buz McGrath naik ke atas panggung dan mempersiapkan peralatan tempur band. McGrath, gitaris Ken Susi, dan vokalis Trevor Phipps termasuk pendiri band yang masih bertahan hingga sekarang, sementara drummer Nick Pierce baru bergabung pada 2012 dan posisi bass diisi oleh musisi tamu, Chris O’Toole. Album-album Unearth cukup berpengaruh terhadap perkembangan musik metal hardcore di seluruh dunia, termasuk di Indonesia. Penampilannya di Rock In Solo menjadi kali ketiga di Indonesia dalam setahun, setelah di Hammersonic Festival pada Maret lalu dan Rock In Celebes sehari sebelum di Solo. Penonton tampak sudah tidak sabar, mereka mulai berteriak-teriak, sebuah pernyataan perang jika energi mereka sudah terkumpul kembali.
Segera saja, “Watch It Burn” menghujam penonton yang secara spontan bergerak menghantam sekitarnya. Tata suara dalam penampilan Unearth ini tebal dan jernih, membuat melodi-melodi yang dilancarkan McGrath dan Susi mengalun tajam di telinga. Bahkan Trevor turut memujinya, “Sound-nya sangat bagus!” Strategi penyelenggara cukup berhasil sejauh ini, penonton tak henti bergerak sepanjang penampilan Unearth. Repertoar andalan dari album terakhir, Watchers of Rule, “The Swarm” dan “Never Cease” dibawakan malam itu. Cukup sulit untuk menerobos ke barisan depan, kepadatan penonton mulai memuncak dan sulit bergerak bebas terutama bagi yang berada di baris tengah. Rif dan melodi yang dilancarkan duo McGrath dan Susi mengalir deras tanpa cela. Sesekali Susi bernyanyi di beberapa bagian lagu “Last Wish” dan “Endless”. Lingkaran besar tercipta ketika “My Will Be Done” dimainkan. Penampilan Unearth sangat memuaskan dan jauh lebih baik ketimbang di Hammersonic lalu. Ditunjang tata suara yang bagus dan penonton yang antusias, pesta pun berlangsung klimaks.
Unearth menutup penampilan sarat ayunan kepalanya dengan lagu “The Great Dividers”. Penonton kembali duduk dan menanti penampil utama terakhir, monster technical death metal asal AS, Nile. Sebuah backdrop bergambar logo Nile raksasa mulai dipasang di atas panggung, lalu gitaris Karl Sanders, Dallas Toler-Wade, drummer George Kollias, dan bassis Brad Parris mondar-mandir di atas panggung melakukan line check. Sepertinya Unearth dan Nile kompak membawa sedikit kru untuk tur di Asia Tenggara dan Australia kali ini. Karl beberapa kali memarahi kru panggung karena terdapat masalah pada mikrofonnya, “Hei, tolong perhatikan! Mikrofon ini mendengking!”
Band yang baru saja merilis album baru, What Should Not Be Unearthed ini mulai membakar panggung dengan “Sacrifice Unto Sebek”. Brutal dan agresif, semuanya bergerak cepat, mulai jari-jemari para gitaris dan bassis, pukulan drum, dan hentakan double bass dari George. Teknikalitas tinggi musik death metal bernuansa Timur Tengah yang disajikan oleh Nile mulai merangsang penonton untuk bergerak. Wall of death tercipta ketika lagu yang diambil dari album baru, “In The Name of Amun” dipresentasikan. Dallas sesekali menunjukkan ekspresi wajah bengis yang begitu menikmati musiknya. Setelah lagu ini selesai, Karl mengalami masalah teknis dengan gitarnya. “Saya pikir Karl merusak sesuatu. Kami memiliki kebiasaan buruk dalam merusak barang. Biasanya George yang senang merusak sesuatu, kali ini Karl,” ujar Dallas, tertawa. Karena cukup lama menunggu perbaikan teknis pada gitar Karl, Dallas berinisiatif melakukan solo gitar untuk menghibur penonton, tapi dalam beberapa detik ia hentikan kembali. “Kami bukan tipe band yang bermain solo, walaupun sedang bermain di festival Solo (Rock In Solo),” candanya.
Karl tersenyum membalas perkataan beberapa penonton yang memintanya untuk tidak merusak gitarnya lagi. Ia siap, agresi pun dilanjutkan dengan “The Howling of The Jinn”. Strategi penyelenggara untuk menjaga stamina penonton tampaknya tak sepenuhnya berhasil. Penonton mulai kehabisan energi dan beberapa yang di depan memilih mundur ketika 3 lagu terakhir mulai berjalan. Sudah tidak ada lagi gerakan-gerakan liar, hanya dua penonton yang terus melakukan headbang tanpa henti di baris depan yang sudah merenggang. Bahkan, beberapa di antaranya duduk dan tak sanggup lagi menanggapi derasnya musik Nile. Hingga akhirnya Nile menutup Rock In Solo 2015, sekaligus membuka era baru bagi festival ini, dengan hits “Black Seeds of Vengeance”. Terasa ada yang kurang dengan penampilan Nile, mereka tidak memainkan lagu yang mungkin paling terkenal di Indonesia, “Kafir!” Beberapa penonton berteriak-teriak meminta lagu itu dimainkan namun tidak digubris. Padahal lagu ini termasuk dari empat lagu yang selalu ada dalam setlist mereka.
Sukacita dan euforia sepanjang konser berlangsung menjadi kunci yang akan mengantarkan Rock In Solo untuk terus berjaya di era barunya. Tugas Rock In Solo ke depannya adalah untuk terus mempertahankan antusias penonton seperti ini. Berbagai pilihan band pengisi dan konsep acara akan terus menjadi tantangan bagi pihak penyelenggara ke depannya. Patut ditunggu, Rock In Solo 2016!
Thursday, 7 May 2015
Live Review: Killswitch Engage
jovieyordan
07:07
No comments
Minggu, 3 Mei 2015. Auditorium Ancol Beach City, Jakarta.
Auditorium Ancol Beach City tampak lengang pada sore (3/5) itu. Tempat yang menjadi tuan rumah pergelaran perdana festival Sonic Fair ini terlihat tidak terlalu dipadati penonton, meski begitu, tampak beberapa kerumunan massa hitam-hitam telah berada di sekitar lokasi.
Semakin malam terjadi peningkatan jumlah penonton yang berada di dalam auditorium, meski tidak terlalu signifikan. Namun, sekitar 300 penonton ini tampaknya telah siap untuk mengeluarkan seluruh energi mereka untuk sajian utama di penghujung acara, yaitu Killswitch Engage yang tampil untuk pertama kalinya di Indonesia.
Benar saja, ketika Killswitch Engage mulai menghujam telinga penonton dengan lagu pertama mereka malam itu, “Fixation on The Darkness”, koor massal terjadi sepanjang konser. Sayatan riff dan melodi yang dipresentasikan oleh duo Adam Dutkiewicz dan Joel Stroetzel, lalu dentuman bass dari Mike D’Antonio serta pukulan drum Justin Foley, berhasil berintegrasi dengan jahatnya raungan vokalis Jesse Leach, yang juga memiliki suara merdu ketika bernyanyi.
Band yang lahir dengan musik hasil gabungan dari swedish melodic death metal dan hardcore ini, menyajikan musik yang memadukan antara agresi dan kelembutan. Agresi ditunjukkan melalui riff-riff agresif, tempo yang cepat ala hardcore, dan blast beat di beberapa bagian. Sementara bagian lembutnya hadir ketika Jesse Leach bernyanyi, serta isi lirik yang membahas kehidupan, patah hati, atau sosok yang dicintai.
Berbagai highlight dari lagu-lagu terbaik Killswitch Engage dibawakan pada malam itu, mulai dari “This Is Absolution”, “Beyond The Flames”, “The Arms of Sorrow”, “In Due Time”, hingga “New Awakening”. Lingkaran moshpit menjadi semakin liar ketika “Rose of Sharyn” menghantam pengeras suara. Lagu yang diambil dari album The End of Heartache ini menunjukkan pengaruh kuat album Slaughter of The Soul dari At The Gates terhadap musik mereka.
Tata cahaya panggung yang memukau berhasil memberikan tampilan yang menarik, berpadu dengan gerakan lincah para personel. Gitaris eksentrik, Adam Dutkiewicz beberapa kali melakukan atraksi dengan Joel dan Mike. Lalu, Jesse yang turun ke barikade untuk menghampiri penonton dan bernyanyi bersama.
“Suatu kehormatan berada di sini bersama kalian. Kami sempat mengalami masalah di bandara Tiongkok sebelum ini, tapi kami bahagia akhirnya bisa tampil di sini,” ujar Jesse. Malam itu, Jesse menunjukkan jika ia adalah sosok yang pantas untuk kembali menjadi pentolan band, ia membawakan lagu-lagu yang dulu dinyanyikan Howard Jones dengan baik.
Untuk menurunkan tempo dan beristirahat sejenak, lagu balada “Always” dari album baru Disarm The Desecent, dikumandangkan. Penonton menanggapinya dengan mengangkat tangan sembari melanjutkan koor yang masih terus mengiringi penampilan band sepanjang konser.
Lagu-lagu andalan selanjutnya, seperti “My Last Serenade” dan “My Curse” menjadi salah satu momen paling berisik, dimana penonton melompat-lompat dan mengepalkan tangan ke udara. Total 14 lagu yang dibawakan pada malam itu berhasil memancing penonton untuk mengeluarkan seluruh energi.
Lagu pamungkas, “The End of Heartache” mengakhiri penampilan Killswitch Engage yang telah ditunggu-tunggu di Indonesia. Meski terlihat kelelahan, penonton berteriak, “We want more! We want more!” dan menanti sejenak apakah band akan kembali ke atas panggung. Namun, pada akhirnya Killswitch Engage pun pamit dan tak ada encore malam itu. “All in due time….”
Photo by: Musik Jurnal
Friday, 20 March 2015
Assassin's Creed Rogue, The Hawk of Betrayal
jovieyordan
01:49
No comments
Dalam game seri Assassin's Creed bertajuk Rogue ini, tidak banyak yang berubah dalam gameplay karena masih terasa seperti Black Flag dengan perang kapal, menjelajahi pulau, crafting, berburu, dan sebagainya. Namun, sensasi dalam berpetualang mengumpulkan collectible items menjadi senjata yang begitu adiktif dari Ubisoft. Pemain dapat menghabiskan waktu yang lama dalam bermain game ini, walau storyline-nya pendek, karena hasrat untuk menjelajah yang tinggi.
Ceritanya pun patut diacungi jempol bila dibandingkan dengan Assassin's Creed 3 atau Black Flag. Shay Patrick Cormac, seorang Assassin, harus berkhianat demi kepentingan umat manusia. Ia bergabung dengan Templar dan balik memburu para Assassins dengan mentor Achilles (kelak menjadi mentor Connor Kenway di AC3).
Pemain sepenuhnya akan merasakan bagaimana menjadi Templar dalam Rogue. Shay akan memiliki aktivitas sampingan untuk menggagalkan sebuah misi assassination dari para Assassins dan juga menggagalkan upaya Assassins membunuhnya melalui stalkers. Beberapa fitur lainnya adalah Naval Campaign, merebut Fort dan Gang Headquarters, serta melakukan renovasi di seluruh dunia untuk menancapkan kekuasaan Templar.
Kelebihan lainnya dari Assassin's Creed Rogue adalah game yang optimal sehingga nyaman untuk dimainkan di PC atau laptop. Meski kualitas gambar tidak sebagus Assassin's Creed Unity, namun kenyamanan lebih baik daripada banyak masalah seperti bugs. Pemain akan dibawa menjelajahi daerah North Atlantic yang bersalju, dimana Shay tidak dapat berlama-lama di dalam air atau ia akan mati kedinginan. Selain itu, Shay juga akan menancapkan kekuasaan Templar di New York dan membersihkannya dari kontrol Assassins.
Akhir dari kisah ini akan menghubungkan ceritanya ke Assassin's Creed Unity dan bagaimana Achilles menjadi Assassin yang tidak aktif di AC3,
Sebuah game yang asik untuk dimainkan dan salah satu yang terbaik dari seri Assassin's Creed.
As I Lay Dying, Pusaka Metalcore Jagat Raya
jovieyordan
00:52
No comments
Sekitar tujuh tahun lalu, musik metalcore yang sedang naik ke permukaan menjadi sebuah candu bagi para penggemar musik metal remaja, terutama anak-anak sekolah. Tentu saja selain pengaruh kuat dari lagu-lagu Burgerkill di album Beyond Coma and Despair, Beside dengan Against Ourselves, dan Down For Life dengan Simponi Kebisingan Babi Neraka, beberapa band di luar Indonesia pun memiliki pengaruh sangat kuat terhadap perkembangan musik metalcore di Tanah Air.
Salah satunya adalah band metalcore asal San Diego, California, Amerika Serikat, As I Lay Dying. Saya sendiri jatuh hati pada AILD (As I Lay Dying) sejak mendengar lagu "94 Hours" yang dikirimkan oleh teman melalui perangkat bluetooth ketika SMA. Setelah itu, muncul rasa penasaran tentang band ini. Kemudian saya menjelajah diskografi mereka mulai dari album Beneath The Encasing of Ashes yang dirilis pada 2001, Frail Words Collapse (2003), Shadows Are Security (2005), dan An Ocean Between Us (2007).
Penggemar musik metalcore pasti tidak bisa melewatkan lagu-lagu dari album ini, dimana intensitas yang diberikan As I Lay Dying terus meningkat. Simak lagu-lagu seperti "Through Struggle", "Confined", "Forever", "An Ocean Between Us", "Forsaken", dan "The Sound of Truth" yang memorable, membalut riff agresif dengan vokal clean yang tidak menye-menye, dan melodi yang memanjakan telinga.
Musik melodic metalcore yang diusung As I Lay Dying merupakan gabungan dari musik melodic death metal Gothenburg dan hardcore punk. Permainan sarat tenaga dari drummer Jordan Mancino dan otak brilian dari vokalis Tim Lambesis dalam menciptakan lagu menjadi kunci As I Lay Dying untuk terus berkembang dari album satu ke album lainnya. Perkembangan ini juga dipengaruhi oleh kehadiran Phil Sgrosso (gitar), Nick Hipa (gitar), dan Josh Gilbert (bass) yang memperkuat fondasi band, karena mereka turut membantu Tim dalam menciptakan lagu baru.
Album dan DVD As I Lay Dying laku keras, bahkan An Ocean Between Us mampu memuncaki tangga lagu Rock di Billboard 200. Pada 2008, mereka juga masuk dalam nominasi Grammy Awards untuk nominasi "Best Metal Performance" dengan lagu "Nothing Left".
Setelah itu, lahir album-album baru, yaitu The Powerless Rise (2010) dan Awakened (2012), yang masih menjaga dengan baik intensitas melodic metalcore ala As I Lay Dying. Berbeda dengan band-band lainnya yang semakin melemah dan kehilangan akarnya, seperti Bring Me The Horizon, All That Remains, dan Caliban, kuintet ini mampu terus dicintai para penggemarnya dengan musik yang selalu memuaskan. Lagu-lagu yang tidak terlupakan dari album ini adalah "A Greater Foundation", "No Lungs to Breathe", "Parallels", "Anodyne Sea", dan "Tear Out My Eyes".
AILD mendapat penghargaan sebagai Metal Band of The Year oleh Loudwire setelah merilis Awakened. Namun, album Awakened yang memberikan sebuah suasana baru dalam musik band, justru menjadi album terakhir As I Lay Dying sebelum mereka harus tidur panjang.
Ya, kasus rencana pembunuhan yang menjerat Tim Lambesis untuk sementara mengakhiri kisah As I Lay Dying dalam berkarya. Ia mendapat hukuman penjara selama enam tahun dan yang mencengangkan adalah pengakuannya jika band Christian metalcore yang dianut As I Lay Dying hanyalah strategi pasar. As I Lay Dying sebelumnya terkenal dengan penggunaan lirik yang berdasar kitab injil atau tentang agama Kristen. Gitaris Nick Hipa lalu menyangkal dan mengecam komentar Lambesis tersebut.
Empat personel As I Lay Dying yang tersisa kemudian membentuk sebuah band baru bernama Wovenwar bersama Shane Blay sebagai vokalis. Sayang, musik yang diberikan tidak sesuai harapan dan terdengar seperti band post hardcore kebanyakan.
Perpecahan pun mengawali tidur panjang As I Lay Dying, situs resmi band hanya mencantumkan nama Tim Lambesis dan Jordan Mancino sebagai anggota band. Memang masih ada band-band metalcore bagus lainnya, seperti Killswitch Engage, Unearth, dan Heaven Shall Burn, tetapi kerinduan terhadap As I Lay Dying akan terus dirasakan.
As I Lay Dying merupakan inspirasi saya dalam membentuk band pada tahun 2010 dan hingga kini, lagu-lagu mereka takkan pernah berhenti menemani.
"Sometimes we have to watch our whole lives fall apart,
before we can rebuild them again - a greater foundation."
As I Lay Dying is sleeping rather than dead...
Thursday, 19 February 2015
The Impossible Dream. Sir Alex, 26 Years Made Possible
jovieyordan
10:12
No comments
“The Impossible Dream. Sir Alex, 26 Years Made Possible,” kalimat ini terbentang di spanduk yang menghiasi Stretford End, stadion Old Trafford milik Manchester United. Sebuah spanduk penghormatan dan ucapan terima kasih atas jasa besar Sir Alex Ferguson dalam memberikan kejayaan untuk Man United selama 26 tahun melatih.
Sir Alex Ferguson, melatih MU pertama kali pada 1986, saat itu ia mengalami kesulitan, dan beberapa musim tanpa piala hingga akhirnya mampu menjuarai piala FA pada 1990. Kisah indahnya dimulai dari sini, piala Liga menjadi rengkuhan selanjutnya pada 1992, kemudian mampu meraih titel juara liga pada musim 1992/93. Setelah itu pasukan Setan Merah di bawah asuhan Sir Alex Ferguson tidak terhentikan dan bangkit menjadi salah satu tim terbesar di dunia. Hingga musim terakhirnya di MU pada 2012/13, Sir Alex telah mempersembahkan 18 gelar juara Liga Inggris, 2 gelar Liga Champions, dan 5 piala FA.
Mungkin berat bagi para penggemar United melihat kursi pelatih tidak lagi diisi oleh Sir Alex, apalagi bagi saya yang sejak awal menyukai United di bawah kendali Sir Alex. Sejak kecil saya mengidolakan United. Saya ingat, hal yang pertama kali membuat saya menyukai United adalah David Beckham, ketika itu jika ada tendangan bebas yang akan dieksekusi oleh Beckham, saya selalu percaya akan gol. Dan seringnya memang benar, kaki Beckham memang ajaib.
Selain Beckham, faktor Sir Alex dan angkatan 1992-nya juga menjadi magnet kenapa saya menyukai United. Posisi Sir Alex tidak pernah goyah, ia adalah pelatih yang tegas dan keras, tetapi efektif dalam membangun klub. Kejadian ‘sepatu terbang’ pada 2003 benar-benar membuat saya terpukul, karena mungkin hal ini yang menjadi penyebab Beckham pindah ke Real Madrid di musim selanjutnya. Setelah kalah 0-2 dari Arsenal, Fergie geram dan menendang sepatu di ruang ganti, tanpa disengaja ternyata sepatu itu mengenai pelipis Beckham.
Media pun langsung heboh dan kisah ‘sepatu terbang’ naik ke permukaan, desas desus Beckham pergi akhirnya benar, sang idola pun tak lagi di klub kesayangan. Sir Alex kemudian mendapatkan suntikan baru dalam tim, menghadirkan Wayne Rooney dan Cristiano Ronaldo, yang mampu mengembalikan kejayaan United setelah beberapa musim direbut Arsenal.
Insting Fergie dalam membeli pemain memang hebat, walau beberapa di antaranya ada yang tidak berguna, contohnya Bebe. Tapi, ia mampu menghadirkan pemain-pemain seperti Edwin Van Der Sar, Nemanja Vidic, Rio Ferdinand, Patrice Evra, Michael Carrick, dan Carlos Tevez yang menjadi pilar penting dalam menjaga konsistensi United. Patut disayangkan United harus kalah dua kali di Final Liga Champions melawan Barcelona, benar-benar lawan yang tangguh dan harus dibalas di kemudian hari nanti.
Gelar demi gelar yang diraih Fergie seperti memberikan rasa tenang bagi para penggemar United, lama kelamaan meraih juara itu terasa biasa. Mungkin seperti Michael Schumacher ketika masa jayanya di Ferrari. Apalagi ketika gelar ke-19 resmi direngkuh dan mengukuhkan United sebagai raja baru di Inggris, menggeser Liverpool dengan 18 gelarnya. Padahal pada awal ia melatih United, perbandingan gelar juara Liga Inggris antara United dan Liverpool adalah 7-16. Luar biasa!
Kini, sang pelatih tak lagi menukangi United, keputusan telah ia buat untuk pensiun pada 2013 lalu. Tak hanya penggemar yang kecewa, bahkan Robin Van Persie pun mengungkapkan kekecewaannya. Penggantinya, David Moyes gagal total, dan saat ini Louis Van Gaal belum memberikan jaminan yang pasti untuk mengembalikan United ke dalam kejayaan. Mungkin keinginan Wayne Rooney beberapa musim sebelum ini untuk pindah akan terlaksana, mungkin United benar-benar butuh ketajaman seperti yang dimiliki Eric Cantona, Ruud Van Nistelrooy, Andy Cole, Dimitar Berbatov, atau Robin Van Persie di musim ketika Sir Alex masih melatih. Sulit mengharapkan Wayne Rooney bisa kembali ke masa dimana ia masih dijuluki wonderkid dan selalu bisa diandalkan di depan gawang.
Memang terkadang gaya bermain yang disajikan United era Fergie bukanlah permainan sepak bola menawan seperti kebanyakan tim sepak bola modern saat ini. Namun, efektifitas adalah kunci kejayaan United bersama Fergie. Beberapa ciri khas dari gaya melatih Fergie yang takkan terlupakan adalah hairdryer treatment, sebuah istilah bagaimana Fergie 'menangani' ruang ganti United ketika keadaan di lapangan sedang buruk. Lalu, Fergie's Time yang selalu mengingatkan United untuk tidak menyerah hingga peluit tanda permainan berakhir berbunyi. Dan tentunya julukan The Comeback Kings, menunjukkan mental United yang sudah sangat terasah dan sering mengembalikan keadaan.
Bagaimanapun, Sir Alex telah meninggalkan warisan yang sangat berharga untuk United, kegigihan dan kepiawannya dalam melatih United selalu menjadi inspirasi bagi saya dan semua penggemar United. Be well and thanks a lot, Boss!
Tom Clancy's Splinter Cell® Blacklist™
jovieyordan
10:03
No comments

Game seri Tom Clancy memang tidak pernah mengecewakan, begitulah kira-kira perasaan ketika menyelesaikan game Splinter Cell: Blacklist hingga tamat. Kali ini Sam Fisher (tokoh utama) tidak bekerja hanya dibantu oleh Anna Grimsdottir, tetapi memiliki tim yang terdiri dari ahli peretas, Charlie Cole dan prajurit yang membantu Fisher di lapangan, Isaac Briggs.
Kelompok Fisher bermarkas di sebuah pesawat bernama Paladin, dimana semua komando misi diarahkan dari sini dalam memburu musuh terbaru mereka, Blacklist.
Game garapan Ubisoft ini menghadirkan visual yang cukup realistis dan dinamis, tidak heran karena Splinter Cell: Blacklist menggunakan mesin Unreal Engine. Selain visual yang nyaman di mata, gameplay pun tak jauh beda dengan Splinter Cell: Conviction, dimana Fisher dapat membawa beberapa senjata, gadget, dan melakukan ‘eksekusi’ yang menjadi ciri khas game ini.
Fitur yang berbeda adalah pesawat Paladin yang dapat di-upgrade, yang dapat memberikan senjata-senjata ekstra atau kebutuhan lainnya yang sangat membantu dalam misi. Selain itu, Fisher juga dapat mengatur kustomisasi dari Ops-Suit yang digunakan, bisa menggunakan kostum khusus stealth atau untuk perang terbuka. Terdapat berbagai macam senjata yang bisa dibeli di pesawat dan upgrade google yang biasa digunakan Fisher.
Musuh-musuh Fisher di Splinter Cell: Blacklist tidak semuanya dapat ditembak di kepala, karena beberapa ada yang menggunakan helm pelindung atau heavy infantry yang menggunakan armor tebal. Di beberapa misi juga Fisher akan menghadapi anjing yang dapat melacak keberadaannya dan drone yang bisa self destruct. Mengingatkan kembali ke game FPS tersohor, Call of Duty.
Misi-misi yang dijalani Fisher tersebar di seluruh dunia, player akan merasakan lokasi yang berbeda-beda, mulai dari Asia, Eropa, hingga Amerika. Masing-masing anggota tim juga akan memberikan side mission yang memiliki karakteristik atau cara penyelesaian sendiri.
Memang telat bagi saya memainkannya, tetapi benar-benar game yang menyenangkan. Tidak perlu mengejar status Ghost untuk menyelesaikan misi, karena hal yang menyenangkan datang ketika menghadapi musuh secara langsung. Overall, cerita dan grafiknya mantap, patut dinanti petualangan selanjutnya dari Fisher dalam mengejar dalang di balik Blacklist.
Subscribe to:
Posts (Atom)





